Tidur dengan Kamar Lebih Sejuk, Mengapa Banyak Orang Menyukainya?

Tidur dengan Kamar Lebih Sejuk, Mengapa Banyak Orang Menyukainya?

Wellnesiahub – Tidur di kamar yang terasa sedikit sejuk memang sering dianggap lebih nyaman. Sensasi dingin ringan membuat sebagian orang lebih cepat merasa rileks, terutama setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, alasan di balik kenyamanan tersebut bukan sekadar soal selera. Suhu tubuh manusia memang berubah mengikuti ritme sirkadian. Menjelang tidur, tubuh mulai melepaskan panas dan suhu inti secara alami menurun. Lingkungan tidur yang tidak terlalu panas dapat mendukung proses tersebut. Sebaliknya, kamar yang pengap atau terlalu hangat bisa membuat seseorang berkeringat, gelisah, dan lebih mudah terbangun. Meski demikian, tidak ada satu angka suhu yang sempurna untuk semua orang. Usia, pakaian tidur, selimut, kelembapan, kondisi tubuh, dan kebiasaan pribadi ikut menentukan kenyamanan.

Baca Juga: Diet OCD Kembali Jadi Perbincangan, Jangan Abaikan Kesalahan Ini

Tubuh Memang Mulai Mendingin Menjelang Waktu Tidur

Tubuh tidak mempertahankan suhu yang benar-benar sama sepanjang hari. Menjelang malam, ritme sirkadian ikut mengatur pelepasan panas dari bagian inti tubuh. Aliran darah menuju bagian tubuh seperti tangan dan kaki meningkat sehingga panas lebih mudah dilepaskan. Penurunan suhu inti tersebut berjalan beriringan dengan proses tubuh mempersiapkan diri untuk tidur. Karena itu, kamar yang sedikit lebih sejuk dapat terasa cocok dengan perubahan fisiologis yang sedang berlangsung. Sebaliknya, suhu lingkungan yang terlalu tinggi dapat menyulitkan tubuh melepaskan panas. Inilah salah satu alasan mengapa malam yang panas sering terasa lebih melelahkan. Kita mungkin sudah mengantuk, tetapi tubuh belum merasa cukup nyaman untuk beristirahat. Meski demikian, membuat kamar sedingin mungkin juga bukan jawabannya. Kenyamanan termal tetap menjadi faktor utama karena tubuh setiap orang merespons suhu secara berbeda.

Kamar Terlalu Panas Bisa Membuat Tidur Lebih Gelisah

Pernah merasa bolak-balik mencari posisi tidur ketika udara sedang panas? Kondisi tersebut cukup masuk akal dari sisi fisiologis. Lingkungan yang terlalu hangat dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur suhu selama tidur. Akibatnya, seseorang dapat merasa gerah, berkeringat, atau lebih sering terbangun. Suhu yang tinggi juga dikaitkan dengan perubahan kualitas serta tahapan tidur. Sleep Foundation mencatat bahwa suhu inti tubuh yang lebih tinggi berhubungan dengan berkurangnya slow-wave sleep yang bersifat restoratif. Selama fase REM, kemampuan tubuh mengatur suhu juga menjadi lebih terbatas sehingga perubahan suhu lingkungan bisa semakin terasa. Oleh karena itu, kamar yang sejuk sering disukai bukan karena udara dingin otomatis membuat seseorang tidur nyenyak. Alasannya lebih sederhana: lingkungan tersebut dapat mengurangi rasa gerah yang berpotensi mengganggu tidur.

Apakah Ada Suhu Kamar yang Paling Ideal?

Rekomendasi umum sering menempatkan suhu kamar tidur orang dewasa sekitar 15,6–20°C, dengan sekitar 18,3°C sebagai angka yang kerap disebut. Namun, angka tersebut bukan aturan mutlak. Preferensi setiap orang dapat berbeda. Bahkan, penelitian pada orang lanjut usia menunjukkan gambaran yang menarik. Sebuah studi longitudinal terhadap lansia yang tinggal di komunitas menemukan bahwa tidur paling efisien dan tenang ketika suhu malam berada sekitar 20–25°C. Ketika suhu meningkat dari 25°C menjadi 30°C, efisiensi tidur turun sekitar 5–10 persen. Para peneliti juga menemukan variasi yang cukup besar antarindividu. Artinya, mengejar satu angka tertentu belum tentu menjadi pendekatan terbaik. Lebih masuk akal mencari suhu yang membuat tubuh tidak berkeringat, tetapi juga tidak menggigil.

Selimut Membuat Suhu yang Dirasakan Menjadi Berbeda

Suhu yang tertera pada AC tidak selalu sama dengan suhu yang dirasakan tubuh ketika berada di tempat tidur. Selimut, piyama, seprai, kasur, dan sirkulasi udara membentuk lingkungan mikro di sekitar tubuh. Karena itu, dua orang yang tidur dalam kamar bersuhu sama dapat merasakan kenyamanan yang sangat berbeda. Seseorang yang memakai selimut tebal mungkin merasa nyaman dalam kamar yang cukup dingin. Sementara itu, orang dengan selimut tipis bisa merasa kedinginan pada suhu yang sama. Penelitian mengenai suhu kamar dan pilihan bedding juga menunjukkan bahwa jenis selimut dapat memperluas rentang suhu kamar yang masih terasa nyaman. Dengan demikian, mengatur suhu tidur tidak harus selalu dilakukan melalui AC. Mengganti ketebalan selimut atau menggunakan bahan yang lebih breathable terkadang sudah cukup untuk membuat tubuh terasa nyaman sepanjang malam.

Mengapa Udara Sejuk Terasa Menenangkan?

Ada pula sisi pengalaman yang membuat kamar sejuk terasa menyenangkan. Setelah beraktivitas sepanjang hari, masuk ke kamar yang tidak pengap dapat memberikan sensasi perubahan lingkungan yang jelas. Tubuh terasa lebih nyaman, sementara pikiran mulai mengasosiasikan kamar dengan waktu beristirahat. Namun, efek ini tidak berdiri sendiri. Kualitas tidur juga dipengaruhi cahaya, kebisingan, kasur, rutinitas sebelum tidur, dan jadwal tidur. Karena itu, menurunkan suhu AC tidak akan otomatis mengatasi seluruh masalah tidur. Pendekatan yang lebih masuk akal adalah melihat kamar sebagai satu kesatuan lingkungan. Suhu dibuat nyaman, cahaya dikurangi, kebisingan ditekan, dan tempat tidur disesuaikan dengan kebutuhan. Kombinasi tersebut dapat membantu mengurangi gangguan yang membuat seseorang sulit mempertahankan tidur sepanjang malam.

Terlalu Dingin Juga Belum Tentu Lebih Baik

Jika kamar sejuk terasa nyaman, apakah semakin dingin berarti semakin baik? Tidak demikian. Kamar yang terlalu dingin juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu tidur. Tubuh mungkin bereaksi dengan menggigil atau membuat seseorang terbangun untuk mencari selimut. Karena itu, targetnya bukan menciptakan kamar sedingin mungkin. Tujuannya adalah menemukan titik nyaman yang mendukung penurunan suhu tubuh tanpa membuat tubuh merasa kedinginan. Hal ini juga menjelaskan mengapa preferensi pasangan sering berbeda. Satu orang merasa nyaman pada suhu tertentu, sedangkan pasangannya menganggap suhu tersebut terlalu dingin. Solusi sederhana bisa berupa penggunaan selimut dengan ketebalan berbeda. Dengan cara itu, suhu ruangan tidak perlu dibuat ekstrem hanya untuk memenuhi preferensi salah satu orang.

Baca Juga: Semur Jengkol Betawi, Masakan Tradisional dengan Rasa yang Melegenda

Ventilasi dan Kelembapan Juga Ikut Berperan

Suhu bukan satu-satunya aspek yang menentukan kenyamanan kamar. Ventilasi dan kelembapan juga dapat memengaruhi pengalaman tidur. Sebuah eksperimen pada peserta berusia di atas 65 tahun menemukan bahwa kondisi 30°C menurunkan total waktu tidur, efisiensi tidur, serta durasi REM dibandingkan 27°C. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa perbaikan ventilasi memberikan manfaat pada beberapa parameter tidur. Sementara itu, studi lain pada lansia menemukan hubungan antara kelembapan malam dan efisiensi tidur, meski pengaruh suhu terlihat lebih besar dalam pengamatan tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa kamar yang nyaman tidak hanya berarti kamar ber-AC. Sirkulasi udara yang baik dan lingkungan yang tidak terasa terlalu lembap juga penting. Terutama di daerah tropis, kombinasi panas dan kelembapan tinggi dapat membuat kamar terasa lebih gerah daripada angka suhu yang terlihat pada termometer.

Cara Menemukan Suhu Tidur yang Nyaman

Daripada terpaku pada satu angka, Anda dapat mencoba perubahan kecil. Turunkan suhu kamar secara bertahap dan perhatikan apakah Anda lebih mudah tertidur atau justru merasa kedinginan. Gunakan pakaian tidur ringan serta bahan seprai yang tidak mudah memerangkap panas jika Anda sering merasa gerah. Kipas juga dapat membantu meningkatkan pergerakan udara. Sebaliknya, jika kaki atau tangan terasa sangat dingin, menambahkan selimut mungkin lebih nyaman daripada menaikkan suhu seluruh kamar. Yang penting, hindari kondisi ekstrem. Jika Anda terus mengalami keringat malam berlebihan, rasa panas yang tidak biasa, atau gangguan tidur berkepanjangan meski lingkungan sudah nyaman, penyebabnya mungkin bukan sekadar suhu kamar dan layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Jadi, Mengapa Banyak Orang Lebih Suka Kamar Sejuk?

Alasannya merupakan kombinasi antara fisiologi dan kenyamanan. Suhu inti tubuh secara alami menurun ketika tubuh bersiap tidur. Karena itu, lingkungan yang sedikit sejuk dapat mendukung pelepasan panas sekaligus mengurangi rasa gerah. Namun, “lebih sejuk” tidak berarti harus sangat dingin. Penelitian juga menunjukkan bahwa suhu optimal dapat berbeda antarindividu dan kelompok usia. Bagi sebagian orang, 18°C terasa nyaman. Bagi orang lain, suhu di atas 20°C justru memberikan tidur yang lebih baik. Jadi, indikator paling praktis adalah bagaimana tubuh merespons: tidak berkeringat, tidak menggigil, dan tidak sering terbangun karena suhu. Dengan menemukan keseimbangan tersebut, kamar tidur dapat menjadi lingkungan yang lebih mendukung istirahat tanpa perlu mengejar angka tertentu sebagai standar mutlak.